
Narcissistic Personality Disorder (NPD) Dalam Pandangan Islam
Melihat NPD dari Perspektif Islam
Pernah mendengar istilah NPD (Narcissistic Personality Disorder)?
NPD atau Gangguan Kepribadian Narsistik adalah kondisi kesehatan mental di mana seseorang memiliki kebutuhan berlebihan untuk merasa penting dan membutuhkan kekaguman dari orang lain. Individu dengan NPD sering merasa diri lebih unggul, kurang berempati, dan kesulitan membangun hubungan yang mendalam, meskipun di balik itu mereka bisa sangat sensitif terhadap kritik.
Ada banyak gejala NPD yang bisa kita jadikan warning supaya dapat terhindar dari gangguan kesehatan mental ini, berikut beberapa gejalanya:
- Haus pujian, tujuannya untuk mengabarkan kepada dunia pencapaian yang sudah berhasil ia dapatkan;
- Menolak kritik, selalu merasa benar, dan suka mencari perhatian. Orang NPD sebenarnya sering merasa cemas, tidak mampu, penuh keraguan, dan kehampaan dalam dirinya. Semua perasaan tersebut ditutupinya dengan mencari validasi dari orang lain, menolak kritik sekecil apapun, tidak mau mengakui saat dirinya salah, merasa dirinya benar, dan sering berperilaku berlebihan untuk mencari perhatian orang lain;
- Bersikap manipulatif, penderita gangguan ini pada awalnya mungkin mencoba untuk menyenangkan orang lain dan membuat orang terkesima padanya. Namun, pada akhirnya nanti, kepentingan dan kebutuhan dirinya sendiri yang akan diutamakan dan selalu didahulukan. Ia pun tak segan-segan untuk menjatuhkan orang lain demi memenuhi kepentingan orang tersebut;
- Suka memanfaatkan atau mengeksploitasi orang lain. Penderita NPD biasanya memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri, baik secara sadar maupun tidak. Ia cenderung membangun hubungan pertemanan atau bisnis berdasarkan apa yang orang lain mampu berikan padanya, misalnya perihal harta atau status sosial. Ia juga mungkin mengeksploitasi kemampuan orang lain untuk menguntungkan dirinya sendiri;
- Merasa superior dan lebih unggul dari orang lain. Gejala NPD lainnya adalah perilaku arogan, angkuh, dan meremehkan, terutama terhadap orang dengan status sosial yang lebih rendah.
Sifat-sifat NPD dalam perspektif Islam:
Kesombongan (takabur):
Islam secara tegas menolak kesombongan karena merupakan penyakit hati yang paling dibenci Allah.
Contohnya adalah perilaku Iblis yang sombong dan menolak bersujud kepada Nabi Adam AS.
Sifat sombong dapat mengundang dosa-dosa lain seperti meremehkan ajaran Allah dan tidak takut kepada-Nya.
Riya’:
NPD seringkali menunjukkan keinginan untuk selalu dipuji dan divalidasi oleh orang lain.
Sikap ini berkaitan erat dengan riya’, yaitu melakukan perbuatan baik agar dilihat dan dipuji orang lain, bukan karena Allah.
Riya’ termasuk syirik kecil yang dapat menggugurkan pahala amal ibadah.
Keangkuhan dan manipulatif:
Seseorang dengan NPD sering kali merasa diri superior dan meremehkan orang lain.
Mereka cenderung manipulatif dan mengeksploitasi orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka akan validasi dan pujian berlebihan.
Egois dan terobsesi pada diri sendiri:
Fokus berlebihan pada diri sendiri dan status sosial juga merupakan ciri-ciri NPD yang tidak dianjurkan dalam Islam.
Islam mengajarkan agar individu fokus pada perbaikan diri dan tidak terlalu bergantung pada pujian atau penilaian orang lain.
Anjuran Islam:
Tawadhu’ (Kerendahan Hati):
Mengembangkan sikap rendah hati adalah kunci utama untuk melawan narsisme.
Seseorang yang tawadhu’ menyadari bahwa semua nikmat, kemampuan, dan kesuksesan adalah karunia dari Allah, bukan semata-mata karena usahanya sendiri.
Mengingat Allah (Dzikir):
Memperbanyak ibadah seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an dapat membantu menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela.
Hal ini juga membantu membangun rasa percaya diri yang sehat, bukan yang berlebihan dan merusak.
Evaluasi Diri:
Melakukan evaluasi diri secara berkala untuk menilai apakah perbuatan kita menyakiti orang lain dapat membantu mencegah sikap narsistik berkembang lebih jauh.
Mari bermuhasabah mengenal diri lebih dalam supaya tidak mengalami gejala seperti di atas. Gejala NPD di atas sangat bertentangan dengan ajaran Islam dikarenakan:
- Manusia di hadapan Allah SWT sama kecuali orang yang bertakwa:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13)
- Allah SWT tidak menyukai orang sombong:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman: 18)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Hujurat: 11)
- Seruan berbuat baik kepada sesama
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ ٱلْءَاخِرَةِ لِيَسُۥٓـُٔوا۟ وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا۟ ٱلْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai” (QS. Al-Isra: 7)
Keindahan agama Islam salah satunya dapat dilihat dari firman-Nya. Marilah isi sisa hidup dengan perbuatan yang baik, tidak menyakiti orang lain, rendah hati, serta setiap tindak-tanduk diliputi kesadaran bahwa kita ini hanya manusia sebagai hamba bukan pemilik dunia. Kenali diri lebih dalam, kelak nantinya akan paham seberapa nilai diri yang kita miliki. Usahakan untuk selalu evaluasi diri atas apa yang sudah dikerjakan apakah masih aman atau sudah offside menyakiti orang lain. Hati kecil tidak akan pernah bohong, so don’t deny what you feel. Mari perbanyak untuk selalu mengingat Allah SWT dengan berbagai cara diantaranya perbaiki sholat, dzikir, mengaji rutin setiap hari, bersedekah, berkumpul dengan orang saleh, serta makan dengan rizki yang halal. Semoga kita selalu dilindungi Allah SWT dari hal-hal tidak bermanfaat dan menambah dosa. Aamiin.



